Tuesday, October 28, 2014

Kalimat Dasar



      A.    Pengertian Kalimat

Menuruy wikipedia Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap.

Menurut Widjono HS, kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pemikiran. Dalam bahasa lisan kalimat diawali dan diakhiri dengan kesenyapan, dan dalam bahasa tertulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.
 
       B.     Unsur – unsur kalimat
Unsur-unsur kalimat tersebut adalah subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (P), dan keterangan (K).

1.      Subjek

Subjek merupakan unsur kalimat berupa nomina, frasa nominal atau klausa.
Ciri-ciri subjek antara lain:
·         Jawaban apa atau siapa
·         Didahului kata bahwa
·         Berupa kata atau frasa benda (nomina)
·         Disertai dengan kata ini atau itu
·         Disertai pewatas yang
·         Kata sifat didahului kata si atau sang: si cantik, si hitam, sang perkasa
·         Tidak didahului preposisi: di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dari, menurut, berdasarkan, dan lain-lain.
·         Tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat dengan kata bukan.

Contoh :

·         Serigala binatang liar.
·         Berjalan kaki menyehatkan badan.

2.      Predikat

Predikat merupakan unsur kalimat yang menjelaskan subjek. Predikat dapat berupa frasa verbal atau frasa adjektival, frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival.
Predikat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·         Bagian kalimat yang menjelaskan pokok kalimat,
·         Dalam kalimat susun biasa, prediket berada langsung di belakang subjek,
·         Predikat umumnya diisi oleh verba atau frasa verba,
·         Dalam kalimat susun biasa (S-P) prediket berintonasi lebih rendah,
·         Predikat merupakan unsur kalimat yang mendapatkan partikel –lah,
·         Predikat dapat merupakan jawaban dari pertanyaan apa yang dilakukan (pokok kalimat) atau bagaimana (pokok kalimat).
Contoh :

·         Pria itu tampan sekali.
·         Dia sedang tidur.

3.      Objek

Objek merupakan unsur yang melengkapi predikat. Objek dapat berupa nominal atau frasa nominal.
Ciri-ciri objek:

·          Berupa kata benda
·          Tidak didahului kata depan
·          Mengikuti secara langsung di belakang predikat transitif
·          Jawaban apa atau siapa yang terletak di belakang predikat transitif
·          Dapat menduduki fungsi subjek apabila kalimat itu dipasifkan.
Contoh :

·         Saya ingin menemui kamu.
·         Sapto mengajar bahasa Indonesia.

4.      Pelengkap

Pelengkap sering dicampuradukkan dengan objek. Pelengkap berwujud frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, dan frasa preposisional.

Pelengkap mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·         Kehadirannya dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks ber dan predikat pasif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks di- atau ter
·         Pelengkap merupakan fungsi kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba dwitransitif pengisi predikat
·         Pelengkap merupakan unsur kalimat yang kehadirannya mengikuti predikat yang diisi oleh verba adalah, ialah, merupakan, dan menjadi

Contoh :

·         Dia berdagang barang-barang elektronikdi Klitikan.
·         Ayuk belajar IPS

5.      Keterangan

Keterangan merupakan unsur kalimat yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya.
Keterangan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·         Umumnya merupakan keterangan tambahan atau unsur yang tidak wajib dalam kalimat
·         Keterangan dapat berpindah tempat tanpa merusak struktur dan makna kalimat
·         Keterangan diisi oleh adverbia, adjektiva, frasa adverbial, frasa adjektival, dan klausa terikat
Contoh :

·         Rina mencuci bajunya tadi malam.
·         Di bagasi mobil Rere terparkir dengan rapi.


      C.    Pola – pola kalimat
Pola Kalimat
Berdasarkan pola dasarnya, Badudu (1990: 32) mengungkapkan pola :
1. S-P
Karto tidur.
2. S-P-O
Sinta makan nasi.
3. S-P-Pel
Cincinnya bertahtakan berlian.
4. S-P-K
D’Bagindas konser di Tokyo Dome.
5. S-P-O-Pel
Yuli menamai kura-kuranya Kira.
6. S-P-O-Pel-K
Setiap pagi Harmo membuatkan semua member nasi goreng.
7. S-P-O-K
Enci minum susu strawberry setiap hari.
8. S-P-Pel-K.
Semua member sedih ketika Karno masuk militer.
Contoh :
1. S-P
Desi belajar
2. S-P-O
Iyan menonton drama
3. S-P-Pel
Mita tertawa terbahak-bahak
4. S-P-K
Karto pergi ke Indonesia
5. S-P-O-Pel
Ohno sedang mencarikan ikan untuk kucingnya Nino
6. S-P-O-Pel-K
Setiap pagi Akbar senam bersama Hana
7. S-P-O-K
Ono memancing ikan setiap sore
8. S-P-Pel-K
Mita tertawa terbahak-bahak ketika melihat Desi tercebur ke dalam kolam ikan

Kedelapan pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.


       D.    Jenis – Jenis Kalimat 
1.      Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dibagi menjadi:
a.       Kalimat Tunggal, yaitu kalimat terdiri atas satu klausa. Kalimattunggal terbagi atas:
1)      Kalimat berpredikat verbal, yang terbagi atas:
a)      Berdasarkan kemungkinan kehadiran nomina atau frasanominal objeknya:
(1)      Kalimat taktransitif, yaitu kalimat yang tak berobjek dantak berpelengkap hanya memiliki dua unsur wajib, yaknisubjek dan predikat.
Contoh:- Bu Camat sedang berbelanja.
                      -Padinya menguning.
(2) Kalimat ekatransitif, yaitu kalimat aberobjek dan tidak  berpelengkap memiliki tiga unsur wajib, yaitu subjek, predikat, dan objek.
Contoh:- Pemerintah akan memasok semua kebutuhan lebaran.
             - Dia memberangkatkan kereta api itu terlalu cepat.
(3) Kalimat dwitransitif, yaitu kalimat memiliki objek dan pelengkap.
Contoh:- Saya harus membelikan anak saya hadiah ulang tahun.
             - Kamu harus membuatkan Pak Ali laporan tahunan.
b) Berdasarkan peran subjeknya:
    (1) Kalimat aktif
    (2) Kalimat pasif
2) Kalimat berpredikat adjektival
3) Kalimat berpredikat nominal (termasuk pronominal)
4) Kaliamat berpredikat numeral
5) Kalimat berpredikat frasa preposisional
b. Kalimat Majemuk, yang terbagi atas:
     1) Kalimat majemuk setara
     2) Kalimat majemuk bertingkat
2. Berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya, kalimat dibagi menjadi:
a. Kalimat deklaratif atau kalimat berita
b. Kalimat imperatif atau kalimat perintah
c. Kalimat interogatif atau kalimat tanya
d. Kalimat ekslamatif atau kalimat seruan
3. Berdasarkan kelengkapan unsurnya, kalimat dibedakan atas:
a. Kalimat lengkap atau kalimat major 
b. Kalimat taklengkap atau kalimat minor

4. Berdasarkan susunan unsur subjek dan predikat, kalimat dibedakan atas:
a. Kalimat biasa
b. Kalimat inversi

      E.     Kata Pengubung

Ungkapan/kata penghubung intrakalimat adalah ungkapan/kata dalam se­buah kalimat yang berfungsi menghubungkan unsur-unsur kalimat.

Ungkapan/kata peng­hubung intrakalimat itu tidak pernah digunakan pada awal sebuah kalimat, kecuali jika kata itu digunakan pada anak kalimat yang mendahului induk kalimat, seperti karena. Oleh karena itu, kata­-kata yang tergolong ke dalam ungkapan/kata penghubung itu tidak pernah/ tidak boleh ditulis dengan huruf kapital. Contoh kata penghubung itu adalah

... dan .... ...
agar ....

... yang .... ...
sehingga ....

... bahwa .... ... karena ....

Selain,dalam bahasa Indonesia terdapat ungkapan/kata penghubung intrakalimat yang penulisannya selalu didahului oleh tanda koma, seperti ... ,
sedangkan .... ...., tetapi ....

Contoh:

(1) la dan adiknya pergi ke Surabaya.

(2) la tidak masuk sekolah karena sakit.

(3) Karena sakit, ia tidak masuk sekolah.

(4) la sangat rajin belajar sehingga tidak
pernah menemui kesulitan di sekolah.

(5) la selalu berusaha keras agar cita-citanya
dapat tercapai.

(6) Anak itu pandai, tetapi sayang teman bergaulnya
terbatas.

(7) Bagaimana aku dapat rnenolongmu, sedangkan
aku sendiri kekurangan.

Sumber :

Monday, October 20, 2014

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)



 EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
A. Penggunaan EYD yang benar pada penulisan huruf dan kata
• Penggunaan Huruf Kapital
a)      Jabatan tidak diikuti nama orang
b)      Huruf pertama nama bangsa
c)      Nama geografi sebagai nama jenis
d)     Setiap unsur bentuk ulang sempurna
e)      Penulisan kata depan dan kata sambung
• Penulisan Huruf Miring
a)      Penulisan nama buku
Contoh: Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos.
b)      Penulisan penegasan kata dan penulisan bahasa asing
Contoh: boat modeling, aeromodeling, motorsport.
c)      Penulisan kata ilmiah
Contoh, royal-purple amethyst, crysacola, turqoisa, rhizopoda, lactobacillus, dsb.

• Penulisan Kata Turunan
a.       Gabungan kata dapat awalan akhiran
Butir 3 pedoman kata turunan menegaskan, jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai
b.      Gabungan kata dalam kombinasi
Butir 4 pedoman penulisan kata turunan menyatakan, jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai

• Penulisan Gabungan Kata
1.      Penulisan gabungan kata istilah khusus
Butir 2 pedoman penulisan gabungan kata mengingatkan, gabungan kata, termasuk istilah khusus.
2.      Penulisan gabungan kata serangkai
Butir 3 pedoman penulisan gabungan kata menegaskan, gabungan kata berikut harus ditulis serangkai.


B. Penggunaan EYD yang benar pada partikel, singkatan, akronim, dan angka.
1) PENULISAN PARTIKEL
a.       Penulisan partikel pun
Butir 2 tentang penulisan partikel mengingatkan, partikel pun dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya.
b.      Penulisan partikel per
Butir 3 tentang penulisan partikel menyebutkan, pertikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
2) PENULISAN SINGKATAN
a)      Penulisan singkatan umum tiga huruf
b)      Penulisan singkatan mata uang
3) PENULISAN AKRONIM
a.       Akronim nama diri
Pedoman EYD menyatakan, akronim nama diri yag berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
b.      Akronim bukan nama diri
Menurut Pedoman EYD, akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, pun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
4) PENULISAN ANGKA
Pedoman EYD menetapkan empat jenis penulisan angka yaitu :
1. angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
2. angka digunakan untuk menyatakan :
i. ukuran panjang, berat, luas, dan isi,
ii. satuan waktu,
iii. nilai uang, dan
iv. kuanitas.

3. angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, aparteman, atau kamar pada alamat.
4. angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
5) PENULISAN LAMBANG BILANGAN
1. Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
Pedoman EYD menetapkan, penulisan lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
2. Penulisan lambang bilangan awal kalimat
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
3. Penulisan lambang bilangan utuh
Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Ketentuan dalam Pedoman EYD ini sangat sejalan dengan kaidah bahasa jurnalistik yang senantiasa menuntut kesederhanaan dan kemudahan.
4. Penulisan lambang bilangan angka-huruf
5. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
C. Penggunaan Tanda Baca
1. Tanda Titik (. )
a.       Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
b.      Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
c.       Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan
2. Tanda Koma ( , )
a.       Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
b.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapidan melainkan.
3. Tanda Titik Koma (; )
a.       Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian¬bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
b.      Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
4. Tanda Titik Dua ( : )
a.       Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
b.      Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
5. Tanda Hubung ( – )
a.       Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
b.      Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada
c.       Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
6. Tanda Pisah ( – )
a.       Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat.
b.      Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
7. Tanda Elipsis ( … )
a.       Tanda elipsis menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
b.      Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya: Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
8. Tanda Tanya ( ? )
a.       Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat Tanya
b.      Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
9. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
10. Tanda Kurung (   )
a.       Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
b.      Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
c.       Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
d.      Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
e.       Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
11. Tanda Petik (“… “)
a.       Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
b.      Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
12. Tanda Petik Tunggal ( ‘ … ‘ )
a.       Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
b.      Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing (Lihat pemakaian tanada kurung)
13. Tanda Ulang ( …2 ) (angka 2 biasa)
Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.
14. Tanda Garis Miring ( / )
a.       Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
b.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
15. Tanda Penyingkat (Apostrof) ( ‘ )
Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.

sumber :  
http://dimasihsanprasetyo.blogspot.com/2013/11/makalah-penggunaan-eyd-dan-pemakaian.html
http://prajuritindo.blogspot.com/2014/01/makalah-penggunaan-kalimat-efektif-dan.html