Monday, November 10, 2014

Alinea



A.   Pengertina Alinea
Alinea adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Alinea diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari kalimat dari sudut pandang komposisi, alinea sebenarnya sudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab karangan formal yang sederhana bisa saja hanya terdiri atas satu alinea. Jadi, tanpa kemampuan menyusun alinea tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.
B.   Unsur-unsur Alinea
Susunan unsur paragraf terdiri dari transisi, kalimat topik, kalimat paragraf, kalimat penegas. Ada juga yang memiliki unsur yaitu transisi, kalimat topik , kalimat pengembang. Atau kalimat topik, kalimat pengembang, kalimat penegas. Ada yang dua unsur yaitu kalimat topik dan kalimat pengembang.
Transisi berupa kata, dapat pula berupa kalimat. Transisi yang berupa kata meliputi penanda hubungan : lagi; dan; penanda hubungan urutan waktu seperti: sekarang, sesudah, sebelum, sehari, kemudian; penanda perbandingan: seperti, misal, ibarat; penanda kontras: biarpun, tetapi, walaupun, sebaliknya; penanda kondisi: apabila, kalau, jikalau, seandainya; penanda urutan jarak; di sini, di sana, dekat, jauh. Transisi berupa kata tersebut dipergunakan dalam kalimat untuk menyusun sebuah paragraf.
Contoh:
    1. Ali membaca buku dan Aminah mengerjakan tugas.
    2. Setelah berlakunya otonomi daerah hubungan pusat dengan daerah seakan-akan terputus.
    3. Siswa yang tidak bisa membaca ibarat makan tanpa gizi.
    4. Di sini tidak ada tempat untuk mendewa-dewakan manusia.
    5. Parit tertimbun tanah akibat saluran air tertutup.
C.   Syarat-syarat Pembentukan dan pengembangan Alinea
Dalam pembentukan/pengembangan paragraf,ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan, diantranya:
1.      Kesatuan
Fungsi paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu, di dalam pengembangannya, uraian-uraian dalam sebuah paragraf tidak boleh menyimpang dari gagasan pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian dalam sebuah paragraf diikat oleh satu gagasan pokok dan merupakan satu kesatuan. Semua kalimat yang terdapat dalam sebuah paragraf harus terfokus pada gagasan pokok.
2.      Kepaduan
Sebuah paragraf bukanlah sekedar kumpulan kalimat-kalimat yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Urutan pikiran yang teratur akan memperlihatkan adanya kepaduan, dan pembaca pun dapat dengan mudah memahami/mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya perloncatan pikiran yang membingungkan.
Kata atau frase transisi yang dapat dipakai dalam karangan ilmiah sekaligus sebagai penanda hubungan dapat dirinci sebagai berikut.
  • Hubungan yang menandakan tambahan kepada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya, misalnya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu, seperti halnya dll
  • Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: lain halnya, seperti, meskipun dll
  • Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya; misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya dll
  • Hubungan yang menyatakan akibat/hasil; misal: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi dll
  • Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: sementara itu, segera, kemudian dll
  • Hubungan yang menyatakan singkatan, misal:  ringkasnya, misalnya, yakni, sesungguhnya dll
  • Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sana, dekat, di seberang dll
3.      Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik/gagasan utama.
Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf
Sebuah paragraf dibangun dari beberapa kalimat yang saling menunjang dan hanya mengandung satu gagasan pokok saja. Gagasan pokok itu dituangkan ke dalam kalimat topik / kalimat pokok. Kalimat topik/kalimat pokok dalam sebuah paragraf dapat diletakkan, di akhir di awal, di awal dan akhir, atau dalam seluruh paragraf itu.
Pengembangan Paragraf.
Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu.
Secara ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua, tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/ perincian-perincian yang tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.
Paragraf  Berdasarkan Teknik Pengembangannya
1.      Secara Alamiah
Dalam teknik ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu:
- urutan ruang (spasial), membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari bawah ke atas, dan sebagainya;
- urutan waktu (kronologis), menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.
2.      Klimaks dan Antiklimaks
Gagasan utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga gagasan yang paling tinggi kedudukan/kepentingannya.
3.      Umum – Khusus & Khusus – Umum (deduktif & induktif)
Cara pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan induktif. Berikut ini secara urut akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara deduktif dan induktif.

sumber :
  • http://heru-adipraja.blogspot.com/2013/11/pengertian-alineamacam-macam.html
  • http://ajengtriansari.wordpress.com/2013/07/21/syarat-syarat-pembentukan-dan-pengembangan-paragraf/
  • http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:CpF51je-B7oJ:t_wahyu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/33451/Paragraf%2BDeduksi.pptx+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id

Tuesday, November 4, 2014

Kalimat Efektif



1     1.      Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah bentuk kalimat yang dengan sadar dan sengaja disusun agar memiliki daya informasi yang tepat dan baik. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pikiran perasaan penulisnya dengan jelas kepada pembaca. Kalimat efektif harus sesuai dengan kaidah bahasa (memiliki unsur subjek dan predikat), singkat (tidak berbelit-belit), enak dibaca, dan sopan. Jadi, pengertian efektif dalam kalimat ialah ketepatan penggunaan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu pula. Hal yang harus diungkapkan dalam kalimat efektif, yaitu kalimat yang menimbulkan daya khayal pada pembaca, minimal mendekati apa yang dipikirkan penulis.

Ciri-ciri kalimat efektif :
·         Kesepadanan struktur
·         Kepararelan bentuk
·         Ketegasan makna
·         Kehematan kata
·         Kecermatan penalaran
·         Kepaduan gagasan
·         Dan kelogisan bahasa
Kesepadanan struktur
Kesepadanan adalah keseimbangan pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai . kesepanan kalimat ditandai oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Ciri-ciri kesepadanan kalimat:
Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.Contoh :
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (salah)
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (benar)
Tidak terdapat subjek yang ganda
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas.(salah)
Soal itu bagi saya kurang jelas .(benar)
Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Keparalelan Bentuk
Kepalalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Dalam kalimat yang efektif, gaya paralelisme menempatkan unsur yang setara dalam konstruksi yang sama. Selain itu, paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan memperhatikan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama. Artinya kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan bentuk kedua menggunakan verbal. Dengan kata lain, kalau berawalan me- sama-sama berawalan me-, berawalan di- sama-sama berawalan di-, dan kalau berbentuk ke- an sama-sama berbentuk ke-an pula.

Contoh 1 :
Langkah-langkah tersebut memahami, menghayati dan pengamalan.
Sesudah menghayati dan memahami, pancasila harus diamalkan.
Bandingkan dengan kalimat:
(1a) langkah-langkah tersebut adalah memahami, menghayati, dan mengamalkan.
(1b) Langkah-langkah tersebut adalah pemahaman, penghayatan dan
Pengamalan.
(2a) Sesudah dipahami dan dihayati, Pancasila harus diamalkan.
(2b) Sesudah memahami dan menghayati, kita harus mengamalkannya.

Catatan 1:
Pada kalimat (1)dan(2) terdapat ketidakparalelan bentuk tentang gagasan-gagasan yang sederajat. Pada kalimat (1) gagasan–gagasan yang sedarajat adalah kata kerja memahami dan menghayati dan kata benda pengamalan; sedangkan pada kalimat (2) gagasan yang sederajat adalah kata kerja aktif me(N)- memahami dan menghayati kata kerja pasif diamalkan. Agar sebuah kalimat menjadi efektif, gagasan–gagasan yang sederajat harus dinyatakan dengan bentuk yang sama. Jelasnya, jika dalam sebuah kalimat suatu gagasan dinyatakan dengan kata kerja me(N)- gagasan lain yang sederajat harus dinyatakan dengan kata kerja me(N) juga. Demikian juga jika suatu gagasan dinyatakan dengan kata benda pe(N)-an, gagasan lain yang sederajat harus dinyatakan dengan kata benda pe(N)-an. Jadi kalimat (1a),(1b),(2a),dan (2b) memiliki keparalelan bentuk.
Kehematan kata
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Artinya membuang kata yang memang tidak perlu, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
·         Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh:
Karena ia tidak belajar, dia tidak naik kelas.(salah)
Karena tidak belajar, dia tidak naik kelas.(benar)

·         Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian super ordinat pada hiponimi kata.
Contoh :
Dia memakai kemeja warna merah .(salah)
Dia memakai kemeja merah. (benar)

·         Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Para tamu-tamu para tamu
Beberapa orang-orang beberapa orang

Kecermatan Penalaran
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda,dan tepat dalam pilihan kata. Artinya bahwa penafsiran ganda dapat mengakibatkan ketidakcermatan penalaran. Tafsiran ganda di sebut juga ketaksaan atau ambiguitas . Ambiguitas atau ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda mendua arti. Ambiguitas timbul dalam dalam berbagai variasi ujaran atau bahasa tertulis. Umpamanya, frase buku sejarah baru dapat ditafsirkan sebagai
(1) buku sejarah itu baru terbit, atau
(2) buku berisi sejarah zaman baru

Tiga bentuk utama ketaksaan, ketiganya berhubungan dengan fonetik, gramatikal,dan leksikal.

Pemilihan kata yang tidak tepat dapat disebabkan beberapa hal, antara lain:
(a) pemakaian kata tutur
Kata tutur adalah kata yang hanya dipakai dalam pergaulan sehari-hari, terutama dalam percakapa
Contoh:
Saya sedang bikin kue.(salah)
Saya sedang membuat kue. (benar)
(b) Pemakaian kata-kata bersinonim
Kata-kata bersinonim ada yang dapat saling menggantikan,ada yang tidak. Adapula kata-kata bersinonim yang pemakaiannya dibatasi oleh persandingan yang dilazimkan.

Contoh:
Saya suka melihat wayang kulit.(salah)
Saya suka menonton wayang kulit. (benar)
(c)Pemakaian kata-kata yang bernilai rasa
Kata-kata yang bernilai rasa hendaknya di pilih secara cermat agar keefektifan penuturan dapat dicapai dwngan sebaik-baiknya. Salah pilih terhadap yang bernilai rasa akan menggangu perasaan pembaca .

Contoh:
Banyak pahlawan kita yang mati di medan perang.(salah)
Banyak pahlawan kita yang gugur di medan perang.(benar)

(d) Pemakaian kata-kata/istilah istilah asing
Ada kata-kata/istilah istilah asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, ada juga yang belum. Jika sudah ada padanannya, hendaknya dipakai padanannya, bukan asingnya.

Kata-kata/istilah istilah asing boleh dipakai dengan pertimbangan sebagai berikut:
·         Lebih cocok karena konotasinya,misalnya;
Kritik --- kecaman
Dianalisis---diolah
·         Lebih singkat jika da bandingkan dengan terjemahannya:
eksekusi---pelaksanaan hukuman mati
imunisasi-----pengebalan terhadap penyakit
·         Bersifat internasional,misalnya;
Matematika-------ilmu pasti
Hydrogen--------- zat air

(e)  Pemakaian kata-kata konkret dan abstrak

Kata konkret ialah kata-kata yang menunjuk kapada objek yang dapat dilihat,didengar,dirasakan,diraba atau dibaca, sedangkan kata-kata abstrak ialah kata-kata yang menunjuk kepada sifat,konsep atau gagasan. Oleh karena itu, dalam karangan dipakai kata-kata konkret sebanyakbanyaknya agar isi karangan itu menjadi lebih jelas.

(f) Pemakaian kata-kata umum dan khusus
Kata-kata umum adalah kata-kat yang luas ruang lingkupnya, sedangkan kata –kata khususnya adalah kata yang mempunayai ruang lingkup yang lebih sempit. Untuk keefektifan penuturan sebaiknya memakai kababta-kata yang lebih sempit. Oleh sebab itu sebaik, untuk mengefektifkan penuturan lebih tepat dipakai kata-kata khusus daripada kata-kata umum.
Umum | khusus = Membawa menjinjing menatang,menggotong |  menyandang
                           Pakaian baju, celana, kain | batik, kemeja
(g)   Pemakain idiom
Contoh:
Bergantung kepada | tergantung dari
Pada | bergantung dari.
Terdiri atas | terdiri dari

(h) Pemakaian kata-kata lugas
Dalam karangan sebaaiknya memakai kata-kata lugas yaitu kata yang bersahaja apa adanya, tidak berupa frase yang panjang
Contoh:
-        Setelah diberikan penjelasan secara mendalam, mereka tidak lagi melakukan pengrusakan terhadap took-toko itu.(salah)
-        Setelah dijelaskan, mereka tidak merusak took-tokoooo itu.(benar)

Kepaduan gagasan
Yang dimaksud dengan kepaduan adalah kepaduan peryataan kalimat, yang menyebabkan kalimat tidak padu adalah:
1.                Keterangan yang disisipkan diantara S(subjek) dan Predikat .
Contoh:
-        Pengemudi setelah menyelesaikan tugasnya dapat idtirahat dan minum kopi yang telah disedikan oleh pelayan. (salah)
-        Setelah selesai melakukan kegiatan nya, pengemudi dapat istirahat dan dan minum kopi.

Keterangan aspek seperti akan,harus , telah, belum, masih sedang dan sebainya, tidak boleh disisipkan pada kata kerja pasif yang berupa ikatan erat pelaku orang I atau ii dengan pokok kata kerja.

Contoh:
-        Selajutnya saya akan uraikan pentingnya bahasa bagi manusia.(salah)
-        Selanjutnya akan saya uraikan pentingnya bahasa bagi manusia. (benar)
    Posisi unsur- unsur kalimat tidak mengikuti aturan pola kaliimat bahasa indonesi.

Contoh:
-        Dalam kita menghadapi berbagai-bagai cobaan hidup harus tetap tabah. (salah)
-        Dalam menghadapi berbagai-bagai cobaan hidup, kita harus tetap tabah.(benar)
    Pemakaian kata depan kepada/bagi diantara P (predikat) dan O(objek Penderita).

Contoh:
-        Sifa sangat menyayangi kepada kucingnya.(salah)
-        Sifa sangat sayang kepada kucingnya. (benar)

Kelogisan bahasa
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Contoh:
-        Waktu kami persilakan.
-        Dirgahayu Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-55

Bandingkan dengan kalimat:
(1a) Bapak Kepala Sekolah kami persilakan!
(1b) Waktu kami serahkan kepada bapak kepala sekolah.

.Kalimat (1) dan (2) memang tidak logis. Ketidaklogisannya terlihat pada hubungan S dan P –nya
Penjelasan Kalimat (1):
    Siapakah yang dipersilakan oleh pembawa acara?
Jawabnya: Bapak Dekan, bapak camat, Saudara Ketua, sebagainya bukan waktu.

    Apakah yang diserahkan kepada Bapak Dekan?
Jawabnya: waktu
Jadi, yang dipersilakan oleh pembawa acara tentu saja orang, bukan benda


 Sumber :
http://www.pengertianahli.com/2013/11/pengertian-kalimat-efektif.html
http://www.rumpunnektar.com/2014/02/ciri-ciri-kalimat-efektif-dan.html