A.
Pengertina
Alinea
Alinea adalah satuan
bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa
kalimat. Alinea diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari
kalimat dari sudut pandang komposisi, alinea sebenarnya sudah memasuki kawasan
wacana atau karangan sebab karangan formal yang sederhana bisa saja hanya
terdiri atas satu alinea. Jadi, tanpa kemampuan menyusun alinea tidak
mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.
B.
Unsur-unsur Alinea
Susunan unsur paragraf
terdiri dari transisi, kalimat topik, kalimat paragraf, kalimat penegas. Ada
juga yang memiliki unsur yaitu transisi, kalimat topik , kalimat pengembang.
Atau kalimat topik, kalimat pengembang, kalimat penegas. Ada yang dua unsur
yaitu kalimat topik dan kalimat pengembang.
Transisi berupa kata,
dapat pula berupa kalimat. Transisi yang berupa kata meliputi penanda hubungan
: lagi; dan; penanda hubungan urutan waktu seperti: sekarang, sesudah, sebelum,
sehari, kemudian; penanda perbandingan: seperti, misal, ibarat; penanda
kontras: biarpun, tetapi, walaupun, sebaliknya; penanda kondisi: apabila,
kalau, jikalau, seandainya; penanda urutan jarak; di sini, di sana, dekat,
jauh. Transisi berupa kata tersebut dipergunakan dalam kalimat untuk menyusun
sebuah paragraf.
Contoh:
- Ali membaca buku dan Aminah mengerjakan tugas.
- Setelah berlakunya otonomi daerah hubungan pusat dengan daerah seakan-akan terputus.
- Siswa yang tidak bisa membaca ibarat makan tanpa gizi.
- Di sini tidak ada tempat untuk mendewa-dewakan manusia.
- Parit tertimbun tanah akibat saluran air tertutup.
C.
Syarat-syarat Pembentukan dan pengembangan Alinea
Dalam
pembentukan/pengembangan paragraf,ada beberapa persyaratan yang harus
diperhatikan, diantranya:
1. Kesatuan
Fungsi
paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu, di dalam
pengembangannya, uraian-uraian dalam sebuah paragraf tidak boleh menyimpang
dari gagasan pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian dalam sebuah
paragraf diikat oleh satu gagasan pokok dan merupakan satu kesatuan. Semua
kalimat yang terdapat dalam sebuah paragraf harus terfokus pada gagasan pokok.
2. Kepaduan
Sebuah
paragraf bukanlah sekedar kumpulan kalimat-kalimat yang berdiri
sendiri-sendiri, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan
timbal balik. Urutan pikiran yang teratur akan memperlihatkan adanya kepaduan,
dan pembaca pun dapat dengan mudah memahami/mengikuti jalan pikiran penulis
tanpa hambatan karena adanya perloncatan pikiran yang membingungkan.
Kata atau
frase transisi yang dapat dipakai dalam karangan ilmiah sekaligus sebagai
penanda hubungan dapat dirinci sebagai berikut.
- Hubungan yang menandakan tambahan kepada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya, misalnya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu, seperti halnya dll
- Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: lain halnya, seperti, meskipun dll
- Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya; misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya dll
- Hubungan yang menyatakan akibat/hasil; misal: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi dll
- Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: sementara itu, segera, kemudian dll
- Hubungan yang menyatakan singkatan, misal: ringkasnya, misalnya, yakni, sesungguhnya dll
- Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sana, dekat, di seberang dll
3. Kelengkapan
Suatu
paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup
menunjang kejelasan kalimat topik/gagasan utama.
Letak
Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf
Sebuah
paragraf dibangun dari beberapa kalimat yang saling menunjang dan hanya
mengandung satu gagasan pokok saja. Gagasan pokok itu dituangkan ke dalam
kalimat topik / kalimat pokok. Kalimat topik/kalimat pokok dalam sebuah
paragraf dapat diletakkan, di akhir di awal, di awal dan akhir, atau dalam
seluruh paragraf itu.
Pengembangan
Paragraf.
Salah satu
cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka
paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu.
Secara
ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal
berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu
spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga
memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua, tempatkanlah kalimat topik
tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf. Ketiga,
dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/ perincian-perincian yang
tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di
antara paragraf.
Paragraf Berdasarkan
Teknik Pengembangannya
1. Secara
Alamiah
Dalam teknik
ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang
dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu:
- urutan
ruang (spasial), membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang
berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari
luar ke dalam, dari bawah ke atas, dan sebagainya;
- urutan
waktu (kronologis), menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau
tindakan.
2. Klimaks
dan Antiklimaks
Gagasan
utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling
rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga
gagasan yang paling tinggi kedudukan/kepentingannya.
3. Umum
– Khusus & Khusus – Umum (deduktif & induktif)
Cara
pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan
induktif. Berikut ini secara urut akan disajikan contoh paragraf yang
dikembangkan dengan cara deduktif dan induktif.
sumber :
- http://heru-adipraja.blogspot.com/2013/11/pengertian-alineamacam-macam.html
- http://ajengtriansari.wordpress.com/2013/07/21/syarat-syarat-pembentukan-dan-pengembangan-paragraf/
- http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:CpF51je-B7oJ:t_wahyu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/33451/Paragraf%2BDeduksi.pptx+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id